Iklan

Kisah Sejarah Wabah Pandemi di

Sejarah Wabah Pandemi di Kota | Dalam catatan sejarah, Indonesia pernah menerapkan karantina wilayah pertama kali ketika pada masa Hindia Belanda. Tepatnya pada tahun 1911−1916. Kala itu, Pulau Jawa dan Sumatra mengalami wabah pes yang episentrumnya, terletak di kota Malang. Tercatat pada kisaran waktu tersebut, wabah pes di dua pulau itu memakan sebanyak 1911 korban jiwa. Karantina wilayah pun diadakan dan menjadi karantina wilayah yang pertama kali di Indonesia. Akhirnya, karantina ini pun menghasilkan efek yang signifikan berupa turunnya angka penularan wabah pes yang kemudian berangsur dengan hilangnya wabah tersebut.

Iklan

Saat ini, karantina wilayah diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dalam Undang-Undang ini, karantina wilayah didefinisikan sebagai pembatasan penduduk dalam suatu wilayah termasuk wilayah pintu masuk beserta isinya yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi. Pemerintah pusat Indonesia dapat menetapkan karantina wilayah sebagai respons terhadap Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD).

Karantina Wilayah di Malang Karena Wabah Pes (Lockdown)

Surat kabar berbahasa Belanda Het Nieuws van den Dag edisi 3 Mei 1911 melaporkan, dalam pertemuan antara dokter, otoritas kereta api, dan pemerintah daerah Malang ada opsi untuk melakukan karantina wilayah di Malang untuk mencegah penyebaran wabah pes.

Kisah Sejarah Wabah Pandemi Di Kota MalangKarantina terhadap orang yang memiliki penyakit menular, pertama kali dilakukan di Deli. Menurut sejarawan dari University of Sydney, Australia, Hans Pols di dalam tulisannya “Quarantine in the Dutch East Indies” di buku Quarantine: Global dan Local Histories (2016), wabah kolera di Hindia Belanda yang menewaskan ribuan orang pada 1817-1823 memaksa pemerintah kolonial menerapkan . Salah satunya karantina untuk orang-orang yang pergi haji, buruh kontrak dari China, dan pribumi.

“Di Hindia Belanda, karantina pertama dibiayai dan dibangun Asosiasi Penanam Deli pada 1899. Peraturan hukum yang disusun para dokter Deli ini menjadi rujukan model untuk ordonansi karantina pada 1911,” tulis Hans.

Karantina Wilayah Di Malang Karena Wabah PesHans menulis, karantina modern didirikan di Pulau Onrust, tak jauh dari Batavia pada 1911 untuk mengisolasi jemaah haji yang baru pulang dari Makkah, Arab Saudi.

Surat kabar Algemeen Handelsblad edisi 15 Mei 1911 melaporkan, dr. Koefoed mengkritik kegagapan pemerintah kolonial dalam memberantas penyakit pes di Malang. Akibatnya, wabah pes menjalar ke timur dan barat Kota Malang.

Baca juga :  Zack Snyder Justice League Rilis 18 Maret 2021

Koefoed juga menolak kebijakan karantina Kota Malang. Alasannya, pes menular dari hewan ke manusia, bukan manusia ke manusia.

“Kasus di Bojonegoro, penyakit ini belum menyebar lebih lanjut, meski pasien telah sakit parah selama seminggu penuh,” katanya, seperti dikutip dari Algemeen Handelsblad.

Koefed menyarankan, pemberantasan pes dengan cara mengisolasi orang sakit di daerah yang terkontaminasi, memberantas tikus, serta orang dan barang dari daerah yang terinfeksi harus disemprot disinfektan.

Namun, Malang akhirnya tetap dikarantina selama setahun, 1911-1912. Syefri mengatakan, praktik karantina Kota Malang pada 1911 dipimpin Direktur BGD, dr. de Vogel. Setiap pintu keluar-masuk Kota Malang dikunci dan dijaga militer.

“Orang bumiputra yang memaksa keluar ada yang ditembak mati, tapi kereta api untuk orang-orang kaya masih boleh keluar-masuk. Setiap kereta api yang berhenti di Stasiun Malang, disemprot disinfektan,” tutur Syefri.

Beberapa desa sengaja dikosongkan, dan rumahnya dibakar karena dinilai terlalu terpapar penyakit menular ini. Kemudian, kata Syefri, penduduk yang rumahnya dibakar diungsikan ke barak-barak yang dikelilingi kawat berduri, dijaga militer dan dokter.

Pada 1915, pemerintah kolonal membentuk Dienst der Pestbestrijding (Dinas Pemberantasan Penyakit Pes). Wabah ini kemudian perlahan mereda pada 1916.

Syefri mengatakan, secara umum karantina wilayah di Malang dianggap berhasil menurunkan jumlah penderita pes. Menurut catatan pemerintah kolonial, pada 1913 penderita pes sebanyak 11.384 orang. Jumlah itu kian menyusut dari tahun ke tahun. Pada 1916, jumlahnya tinggal 595 orang.

Content Protection By Dmca.com

Dapatkan pembaharuan via email ketika halaman ini telah diperbarui

Pos Ketentuan Penolakan

Informasi yang terkandung dalam posting ini hanya untuk tujuan informasi umum. Informasi ini disediakan oleh Sejarah Wabah Pandemi di Kota Malang dan sementara kami berusaha untuk menjaga informasi tetap mutakhir dan benar, kami tidak membuat pernyataan atau jaminan apa pun, tersurat maupun tersirat, tentang kelengkapan, keakuratan, keandalan, kesesuaian, atau ketersediaan dengan sehubungan dengan situs web atau informasi, produk, layanan, atau gambar terkait yang terkandung di pos untuk tujuan apa pun.

Warnet Centro Game Online

Info Tambahan

Apakah artikel ini membantu ?
YaTidak
Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini